Penyebaran Zoonosis Melalui Pangan

Telah terjadi perubahan pola penyebaran dan penularan penyakit terutama penyebaran penyakit melalui pangan, karena terjadinya beberapa penubahan perilaku masyarakat secara global yang dengan sendirinya mempengaruhi perhatian dalam mendapatkan pangan yang aman (MACKENZEI et al., 2004; SCHLUNDT et al., 2004). Perubahan tersebut antara lain:

Pola makan 
Makin banyak orang menginginkan pangan yang segar, atau pangan yang hanya sedikit diolah. Memperoleh pangan yang tetap segar jelas merupakan masalah apabila makanan tersebut harus didatangkan dari lokasi yangcukup jauh. Untuk pangan asal ternak, fasilitas pendinginyangbaik diperlukan untuk menjaga pangan tetap segar, selain kecepatan dalam menempuh lokasi yang dituju. Misalnya, untuk transportasi susu segar diperlukan fasilitas pendingin yang cukup baik dibandingkan dengan transportasi susu bubuk.

Transportasi 
Makin baiknya transportasi telah menyebabkan banyaknya orang bepergian dari satu tempat ke tempat lain, dan orang mengharapkan pangan yang sama tersedia di setiap tempat. Sehingga bahan pangan yang sama diharapkan tersedia secara global, akibatnya pencemaran satu bahan pangan dengan cepat tersebar juga secara global. Kasus BSE dan dioksin yangterjadi di Eropa merupakan contoh cepatnya penyebaran bahaya dalam pangan, karena produk telah tersebar luas di luar Eropa.

Makanan siap saji 
Meningkatnya kecenderungan orang untuk makan di luar rumah atau mendapatkan pangan yang slap santap atau slap saji, sehingga tanggung jawab dalam memperoleh makanan yang aman di piring merupakan tanggung jawab kelompok masyarakat yanglebih besar daripada tanggung jawab dalam rumah tangga . Dengan sendirinya, apabila terjadi kasus pencemaran maka jumlah masyarakat yangterkena dampaknya akan lebih banyak, tidak terbatas pada anggota keluarga saja (KOMPAS,2003).

Umumnya infeksi saluran pencernaan yang disebabkan oleh cemaran dalam makanan (foodborne disease) selalu dikaitkan dengan bakteri Salmonella dan E. coli. Hal ini ada benarnya karena memang kedua bakteri ini masih merupakan masalah baik di negara yang telah maju ataupun negara berkembang. Pada bulan Mei 2005, di Amerika dilaporkan kejadian kasus Salmonella pada 272 orang dengan satu orang yang meninggal. Dari jumlah orang yang terinfeksi, kasus tersebut lebih besar dari yang terjadi pada tahun 1996 (FoODHACCP, 2005). Selain E. coli sering dianggap sebagai indikator higienitas dari rantai penyedian pangan, dan dengan sendirinya infeksi oleh bakteri tersebut akan tinggi di negara-negara dengan tingkat higienitas yang rendah. Kemampuan hampir semua laboratorium mikrobiologi dalam menentukan bakteri tersebut juga menyebabkan banyaknya laporan kasus infeksi yang disebabkan kedua bakteri tersebut. Di negara yang telah maju dengan kemampuan laboratorium yang lebih baik telah melaporkan beberapa bakteri lain sebagai penyebab foodborne disease, seperti Campylobacterdan Listeria. Di negara berkembang termasuk Indonesia, jurnlah laboratorium yang mampu menentukan bakteri lain penyebab foodborne disease masih terbatas.

0 Response to "Penyebaran Zoonosis Melalui Pangan"

-berkomentarlah dengan baik sesuai topik
-menaruh link aktif dianggap spam